Tampilkan postingan dengan label kumpulan makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan makalah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

NTMC KORLANTAS POLRI

Perkembangan Teknologi Informasi yang sedemikian pesat telah memberikan manfaat dalam berbagai sendi kehidupan, hal ini menuntut  Polri untuk mengikuti dan berinovasi dalam pelaksanaan tugas-tugas Kepolisian. Dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi yang paling menonjol adalah telah dibangunnya  National Traffic Management Center (NTMC).

Pusat Pengendali Lalu Lintas Nasional Kepolisian Republik Indonesia (lebih dikenal dengan istilah NTMC Polri) adalah pusat kendali informasi dan komunikasi yang mngatur lalu lintas di Indonesia. NTMC Polri mengintegrasikan sistem informasi ke lima pemangku kepentingan bidang lalu lintas (Polri, Kementerian Pekerjaan Umum, Perhubungan, Perindustrian, dan Riset Teknologi).

Sebagaimana ditegaskan pada pasal 247 ayat 3 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Korps Lalu Lintas Polri adalah Pembina, Pengelola dan Penanggung jawab dari Pusat Kendali Sistem Informasi dan Komunikasi, Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara Nasional.

Kedudukan NTMC Polri

NTMC Polri sendiri merupakan bagian atau subsistem dari Sistem Manajemen Teknologi Kepolisian (SIMTEKPOL). Seluruh informasi aktual tentang lalu lintas yang merupakan output dari NTMC dikumpulkan, diolah, dan disampaikan kepada pihak yang berkepentingan dan dikoordinasikan sebagai bahan kendali penanganan masalah. Sebagaimana ditegaskan pada pasal 247 ayat 3 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Korps Lalu Lintas Polri adalah Pembina, Pengelola dan Penanggung jawab dari Pusat Kendali Sistem Informasi dan Komunikasi, Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara Nasional. Kehadiran NTMC merupakan salah satu wujud Reformasi Birokrasi Polri dalam hal pelayanan kepada masyarakat yang memungkinkan personel Polantas dapat bekerja secara transparan, cepat dan akurat dalam merespons (quick respon) setiap permasalah yang ada di lapangan. NTMC merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran (kamseltibcar) lalu lintas. Untuk lebih mengoptimalkan diseminasi informasi lalu lintas, NTMC Polri bekerja sama dengan beberapa televisi nasional untuk ditayangkan secara siaran langsung agar menjadi panduan pengguna lalu lintas.


Perlengkapan

Untuk mendukung sistem informasi NTMC telah dipasang kamera CCTV di selumlah lokasi di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali yang seluruhnya telah terintegrasi oleh NTMC Polri. Kamera pemantau itu antara lain tersebar di berbagai titik rawan macet dan gangguan keamanan dan aktif termonitor selama 24 jam. Untuk kepentingan kendali operasi, NTMC di Korps Lalu lintas Polri juga dilengkapi dengan teknologi informasi berbasis geografis atau Geographik Information Sistem (GIS) yang mampu menampilkan data secara akurat sesuai kondisi per wilayah. Selain itu operasional NTMC didukung dengan teknologi, seperti CCTV, CIS, GPS, Internet, Database online, SMS, Faximile, Telepon, HT, Layar monitor dan berbagai program komputer agar dari NTMC kegiatan K3-I dapat diimplementasikan secara optimal, yaitu terjadinya quick respontime (kecepatan pengamanan, pelayanan masyarakat).

Tugas Pokok NTMC Polri

Kegiatan NTMC sebagai Pusat Kendali Sistem Informasi dan Komunikasi Lalu Lintas dan angkutan jalan, menurut pasal 249 (e) UU No. 22 Tahun 2009, sekurang-kurangnya meliputi:
  1. Pelayanan kebutuhan data, informasi , dan komunikasi tentang lalu lintas dan angkutan jalan.
  2. Dukungan tindakan cepat terhadap pelanggaran , kemacetan dan kecelakaan serta kejadian lain yang berdampak terhadap lalu lintas dan angkutan jalan.
  3. Analisis , evaluasi terhadap pelanggaran , kemacetan dan kecelakaan lalu lintas
  4. Dukungan penegakan hukum dengan alat elektronik dan secara langsung
  5. Dukungan pelayanan surat izin mengemudi, surat tanda nomor kendaraan Bermotor dan buku pemilik kendaraan Bermotor .
  6. Pemberian informasi hilang temu kendaraan bermotor
  7. Pemberian informasi kualitas baku mutu udara
  8. Dukungan pengendalian lalu lintas dengan pengaturan , penjagaan, pengawalan dan patrol
  9. Dukungan pengendalian pergerakan lalu lintas dan angkutan jalan dan
  10. Pemberian informasi tentang kondisi jalan dan pelayanan public


Tujuan NTMC Polri

  1. Quick Respon Time secara propesional dalam meningkatkan dan mewujudkan dan memelihara KAMSELTIBCARLANTAS
  2. Pelayanan penegakan hukum
  3. Pusat informasi bagi polri dan komunikasi yang lebih KAMSELTIBCARLANTAS
  4. Pengendali lalu lintas
  5. Analisa dan evaluasi bidang lalu lintas
  6. Membantu meningkatkan kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fasiitas korban kecelakaan

Adapun program dari NTMC adalah sebagai berikut:
  1. Pelayanan “Quick Respon Time” secara Profesional terhadap masyarakat.
  2. Analisa Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas (Black Spot).
  3. Pusat Informasi SIM, STNK, BPKB bagi Polri dan Masyarakat.
  4. Pusat Informasi kegiatan dan Kemacetan Lalu Lintas.
  5. Pusat Informasi Hilang Temu Kendaraan Bermotor.
  6. Pusat Kendali Patroli Ranmor dalam mewujudkan Keselamatan dan Kamtibcar Lantas.
  7. Pusat Informasi Kualitas Baku Mutu Udara.
  8. Pusat Pengendalian Lalu Lintas.
1.

Rabu, 10 April 2013

contoh abstrak laporan / makalah Tugas Akhir jurusan teknik informatika



Abstrak
Perkembangan teknologi sistem pengaturan proses di industri dewasa ini menuju penerapan teknologi elektro-pneumatik, yaitu pengaturan komponen pneumatik melalui sinyal listrik. Pressure control trainer 38-714 adalah modul ajar teknologi elektro-pneumatik yang membahas pengaturan tekanan. Perubahan variasi beban dan gangguan pada teknologi elektro-pneumatik dapat menyebabkan respon sistem tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
Pengaruh gangguan yang terdapat pada sistem proses dapat direduksi dengan kontroler kaskade. Selain itu, metode kaskade digunakan untuk meningkatkan kecepatan respon sistem. Dengan pendekatan fuzzy, masalah kontroler dapat diselesaikan dengan mudah tanpa perhitungan matematis yang rumit.
Kontroler kaskade fuzzy adalah dua kontroler fuzzy yang disusun secara kaskade. Pada sisi primer berupa kontroler fuzzy untuk pengaturan tekanan, sedangkan pada sisi sekunder berupa kontroler fuzzy untuk pengaturan aliran.
Berdasarkan hasil implementasi, kontroler kaskade fuzzy dalam penelitian ini mampu mengurangi nilai maksimum overshoot, waktu steady state dan error steady state. Jika kontroler kaskade fuzzy dibandingkan dengan kontroler fuzzy tunggal.


Abstract
Technological developments in industrial process control systems today is toward the application of electro-pneumatic technology, ie pneumatic component control via electrical signals. Pressure control trainer 38-714 is a teaching module on the electro-pneumatic technology which the pressure. Changes in load variations and disturbances in the electro-pneumatic technology can effect the system response does not match the expected criteria.
Effect of disturbance in process systems can be reduced with a cascade controller. The cascade method is used to increase system response speed. With the fuzzy approach, the controller problem can be solved easily without complicated mathematical calculations.
Cascade fuzzy controller is consist of two fuzzy controllers in a cascade. On the primary side of a fuzzy controller of pressure, the secondary side of a fuzzy controller of flow. Based on the results of implementation, the cascade fuzzy controllers were able to reduce the maximum overshoot, the steady state and steady state error. If the cascade fuzzy controller compared with a single fuzzy controller.

1.

Selasa, 10 April 2012

CONTOH DAFTAR PUSTAKA DALAM PROPOSAL ATAU MAKALAH MATEMATIKA

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Pandoyo, Hidayah Isti, Suhito, Suparyan. 2000. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: Pendidikan Matematika FMIPA UNNES

Anni, Catharina Tri. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta (Edisi Revisi).

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Azia, Yunia Mulyani. 2006. Penerapan Peta Konsep Segitiga pada Siswa SMA. Online at: http://educare.e-fkipunla.net

BNSP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. BNSP

Budiharjo. 2006. Pemahaman Konsep, Penalaran & Komunikasi dan Pemecahan Masalah. Blora : Departemen Pendidikan Nasional.

DEPDIKNAS, Pusat Bahasa. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Dimyati, dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Ibrahim, Muslimah dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : UNS.

Loedji, Willa Adrian Soekotjo. 2004. Kompetensi Matematika SMP Bilingual. Bandung: CV. Yrama Widya

Moleong, Lexy. J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rosdakarya.

Nuharini, Dewi dan Tri Wahyuni. 2008. Matematika 1: Konsep dan Aplikasinya: untuk Kelas VI SMP/MTs I. Departemen Pendidikan nasional

Rosita, Adelyna. 2007. Analisis Kesalahan Siswa Kelas VII SMP Negeri 18 Semarang Dalam Menyelesaikan Soal Matematika Pada Pokok Bahasan Lingkaran Dengan Panduan Kriteria Watson. UNNES. Skripsi

Sa’dijah, Cholis. 2006. Pemahaman Konsep Matematika.

Salamah,Umi. 2007. Membangun Kompetensi Matematika 1untuk Kelas VII SMP dan MTs. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sugandi, Achmad. 2006. Teori Pembelajaran. Semarang. UPT UNNES Press

Suherman, Erman. 1990. Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan Evaluasi Pembelajaran Matematika. Bandung: Wijayakusumah.

Suherman, Erman dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: IMSTEP

Suyitno, Amin. 2004. Dasar-dasar Proses Pembelajaran Matematika. Semarang: Pendidikan Matematika FMIPA UNNES.

Zainuri. 2007.”Pakar Matematika” Bicara Tentang Prestasi Pendidikan Matematika Indonesia.

1.

CONTOH LANDASAN TEORI DALAM PROPOSAL MATEMATIKA

LANDASAN TEORI

1. Hakikat Matematika

Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti ‘belajar atau hal yang dipelajari’, sedang dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ‘ilmu pasti’. Di Indonesia, matematika pernah disebut ilmu pasti karena matematika berkaitan erat dengan istilah penalaran (reasoning). Dikenal dua macam penalaran yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang bersifat umum (general) berdasar pada beberapa pernyataan khusus yang diketahui benar. Di matematika, pernyataan yang didapat dari proses induksi belum disebut teorema sebelum dibuktikan secara deduktif. Hasil proses penarikan kesimpulan melalui induksi ini di matematika hanya disebut dengan dugaan (conjecture).

Suatu bangunan matematika disusun dengan dasar pondasi berupa kumpulan sifat pangkal (aksioma). Aksioma adalah semacam dalil atau teorema yang kebenarannya tidak perlu dibuktikan namum akan dijadikan dasar untuk membuktikan dalil atau teorema matematika selanjutnya. Karenanya, Jacobs (1982: 32) menyatakan: “Deductive reasoning is a method of drawing conclusions from facts that we accept as true by using logic”. Artinya, penalaran deduktif adalah suatu cara penarikan kesimpulan dari pernyataan atau fakta-fakta yang dianggap benar dengan menggunakan logika. Oleh karena itu, kebenaran teorema matematika lebih absolut karena ada faktor pembuktian secara deduktif.

Menurut Gegne (dalam Suherman, 2003:25) objek belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung. Objek langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika, dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek tak langsung meliputi fakta, ketrampilan, konsep, dan prinsip.

a. Fakta matematika

Fakta-fakta matematika adalah kesepakatan dalam matematika yang dimasukkan untuk memperlancar pembicaraan-pembicaraan didalam matematika, seperti lambang-lambang yang ada dalam matematika.

b. Ketrampilan-ketrampilan matematika

Ketrampilan-ketrampilan matematika adalah operasi dan prosedur dalam matematika yang masing-masing merupakan suatu proses untuk mencari (memperoleh) hasil tertentu.

c. Konsep-konsep matematika

Konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk mengklasifikasi apakah suatu objek tertentu merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut.

d. Prinsip-prinsip matematika

Prinsip adalah suatu pernyataan yang bernilai benar, yang memuat data konsep dan menyatakan hubungan antar konsep-konsep tersebut. Salah satu wujudnya adalah teorema.

2. Pengertian Belajar

Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Oleh karena itu dengan menguasai prinsip-prinsip dasar tentang belajar, seseorang telah mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang peranan penting dalam proses psikologis.

Konsep tentang belajar telah banyak didefinisikan oleh para psikologi. Gagne dan Berliener menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme megubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Morgan et.al menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanent yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman. Slavin menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan. Dari keempat pengertian tersebut tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga unsur yang utama (Anni, 2004: 2) yaitu sebagai berikut.

a. Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku.

b. Perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman.

c. Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanent.

Belajar menurut pandangan Skinner (dalam Dimyati & Mudjiono, 2002: 9) berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut.

a. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pembelajar.

b. Respons si pebelajar.

c. Konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pebelajar yang baik diberi hadiah sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.

3. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal.

Amin Suyitno (2004 : 2) memberikan kesimpulan sebagai berikut.

Pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika pada siswanya, yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antar guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa dalam mempelajari matematika tersebut.

4. Matematika Sekolah

Matematika sekolah adalah matematika dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Suherman, 2003:55). Menurut Depdiknas (2006:345-346), kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh peserta didik adalah sebagai berikut:

a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.

b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menaksirkan solusi yang diperoleh.

d. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

1.

CONTOH LATAR BELAKANG PADA PROPOSAL SKRIPSI

LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dan pokok bagi masing-masing individu. Suatu bangsa akan dipandang sebagai bangsa yang maju apabila mutu pendidikan suatu bangsa telah maju pula. Sesuai dengan perkembangan zaman, banyak ilmu-ilmu pengetahuan yang makin berkembang dengan pesat khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan IPTEK sangat erat hubungannya dengan perkembangan ilmu matematika. Karena besarnya peran matematika, maka matematika memerlukan perhatian dan penanganan yang serius.

Menformulasikan definisi matematika tidaklah semudah yang dibayangkan karena definisi dan tujuan pembelajaran matematika akan selalu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan zaman. De Lange (2005:8) saja, seorang pakar pendidikan matematika dari Freudenthal Institute (FI), suatu lembaga di Universitas Utrecht yang sangat terkenal dengan Realistic Mathematics Education (RME) menyatakan: “‘What is mathematics?’ is not a simple question to answer.” Menurut R. Soedjadi dan Masriyah (1994:288), meskipun terdapat berbagai definisi matematika yang tampak berlainan, tetapi dapat ditarik ciri-ciri yang sama yakni (1) matematika memiliki objek kajian yang abstrak, (2) matematika mendasarkan diri pada kesepakatan-kesepakatan, (3) matematika sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif, dan (4) matematika dijiwai dengan kebenaran konsistensi.

Karena matematika memiliki objek kajian yang abstrak, maka diperlukan keahlian khusus untuk mengajarkan matematika kepada peserta didik. Tugas sebagai pendidik atau guru pada umumnya bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi merupakan pekerjaan profesional. Seperti tertera pada Undang-Undang Guru dan Dosen pada pasal 1 yang berbunyi “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Tugas guru sebagai pendidik yang profesional tidaklah mudah. Guru dituntut untuk dapat mendidik (meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup), mengajar (meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi), melatih (mengembangkan keterampilan siswa), serta mengadakan evaluasi terhadap hasil belajar siswa.

Kaitannya dengan tugas guru untuk mengadakan evaluasi, guru juga memiliki tanggung jawab melakukan diagnosis dengan cermat terhadap kesulitan dan kebutuhan siswa. Guru tidak hanya dituntut untuk mengetahui mampu atau tidaknya siswa mengerjakan tes, tetapi guru juga dituntut untuk dapat menindaklanjuti kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal. Kesalahan yang dilakukan siswa pada umumnya terletak pada penggunaan rumus, pemahaman dan kemampuan mencerna bahasa matematika, kemampuan mengaplikasikan konsep, dan kesalahan dalam perhitungan. Sehingga untuk membantu siswa dalam mengerjakan soal-soal matematika perlu adanya identifikasi kesalahan siswa dalam mengerjakan soal.

Kenyataan di lapangan menunjukkan pola pembelajaran matematika yang diterapkan selama ini cenderung berorientasi kepada memberi informasi dan memakai matematika yang siap pakai. Pola pembelajaran tersebut berakibat tidak memberikan makna kepada peserta didik sehingga kemampuan cara berpikir dan penalaran peserta didik rendah. Rendahnya kemampuan tersebut akan mempengaruhi kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal. Kegagalan tersebut ditunjukkan oleh prestasi peserta didik Indonesia secara umum di kancah internasional. Menurut survey PISA (Programme for International Students Assesment), tahun 2006 peringkat Indonesia untuk matematika turun dari urutan ke-38 dari 40 negara (2003) menjadi urutan ke-52 dari 57 negara, dengan skor rata-rata turun dari 441 menjadi hanya 391, serta menurut data UNESCO, peringkat matematika Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara (Zainuri 2007). Salah satu upaya untuk mengatasi kegagalan tersebut adalah dengan melakukan analisis terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal sehingga guru dapat menentukan langkah atau strategi yang tepat dalam pembelajaran matematika.

Salah satu pokok bahasan yang sering dianggap sulit bagi siswa adalah geometri karena membutuhkan pemikiran dan penalaran yang kritis serta memerlukan abstraksi yang logis. Sutrisno (dalam Azia:2006) menuliskan bahwa geometri dianggap penting untuk dipelajari karena di samping geometri menonjol pada struktur yang berpola deduktif, geometri juga menonjol pada teknik-teknik geometris yang efektif dalam membantu penyelesaian masalah dari banyak cabang matematika serta menunjang pembelajaran mata pelajaran lain. Misalnya dengan geometri siswa dapat menghitung luas trapesium, tinggi sebuah gedung, jarak tempuh pesawat dari kota A ke kota B dan lain-lain. Menurut Van Hiele (Suherman, 2003:52) tiga unsur utama dalam pembelajaran geometri yaitu waktu, materi pengajaran dan metode pengajaran yang diterapkan, jika ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa kepada tingkatan berpikir yang lebih tinggi. Salah satu pokok bahasan dalam geometri adalah materi pokok segitiga. Secara spesifik, peneliti memilih materi pokok segitiga untuk menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaiakan soal-soal pada tes tingkat perkembangan berpikir secara geometri karena masih rendahnya hasil belajar siswa pada materi pokok ini.

Mengingat pentingnya geometri khususnya segitiga, maka diperlukan suatu pendekatan agar materi dapat terserap oleh siswa. Hal itu dapat diapresiasikan dengan pendekatan langkah-langkah Polya. Langkah-langkah pemecahan masalah yang ditemukan oleh George Polya ini adalah metode esensial untuk menyeleksi informasi yang relevan. Informasi tersebut berupa data dan permasalahan yang akan dicari penyelesaiannya. Penyelesaian permasalahan ini belum dianggap sebagai hasil final sebelum diperiksa kembali kesesuaiannya terhadap informasi yang disediakan. Adapun langkah-langkah tersebut adalah memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana dan memeriksa kembali.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis kesalahan siswa dalam mengerjakan soal dapat dijadikan salah satu alternatif yang cukup bermanfaat untuk memperbaiki pembelajaran matematika, sehingga penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: ANALISIS KESALAHAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 MAGELANG DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN SEGITIGA DENGAN PANDUAN KRITERIA POLYA.

1.

CONTOH : PTK PEMBELAJARAN METODE OUT DOOR STUDY DAPAT MENINGKATKAN MINAT & MOTIVASI BELAJAR IPA PADA SISWA






PEMBELAJARAN METODE OUT DOOR STUDY IN TAI
DAPAT MENINGKATKAN MINAT & MOTIVASI BELAJAR IPA
PADA SISWA KELAS 3 SDN KENDANGSARI III SURABAYA
 

PENDAHULUAN

Minat &  motivasi adalah fariabel penting yang berpengaruh terhadap tercapainya prestasi atau cita-cita yang diharapkan seperti yang dikemukakan Effendi (1995) bahwa belajar dengan minat akan lebih baik dari pada belajar tanpa minat.
 
Rendahnya minat belajar siswa di SDN Kendangsari III Surabaya  terhadap mata pelajaran IPA selama ini menandakan bahwa pembelajaran IPA kurang menarik. Hal ini terbukti dari setiap hasil analisis pada setiap ulangan harian dan pengerjaan soal latihan di LKS daya serap siswa di bawah 60% (tidak tuntas).

Berbagai upaya telah dilakukan untuk dapat meningkatkan minat serta prestasi belajar siswa, antara lain dengan pemberian pelajaran tambahan setelah pelajaran sekolah, penyediaan LKS yang dilengkapi dengan sejumlah soal-soal latihan dll, tetapi hasilnya masih belum memuaskan.
 
Dari kenyataan tersebut dapat diduga penyebab mengapa prestasi belajar siswa rendah pada setiap ulangan IPA, antara lain sebagai berikut :
Siswa kurang memahami konsep pengajaran IPA. Jam pelajaran berada di siang / sore hari (masuk siang). Siswa kurang termotivasi menyelesaikan tugas-tugas di rumah. Minat baca siswa terhadap buku teks IPA rendah. Siswa kuramg berani bertanya pada saat proses belajar mengajar atau model pembelajarn guru hanya itu-itu saja (model gunung) menurut Suhardjono dalam Semiloka Sehari tentang PTK. (Suharsimi, Suhardjono dan Supardi, dalam bukunya Penelitian Tindakan Kelas)
 
Dari sejumlah permasalahan tersebut di atas sebenarnya ada satu masalah utama yang perlu mendapat perhatian, yaitu yang berkaitan dengan minat & motivasi siswa pada pelajaran IPA. Sebagian besar siswa kurang berminat dalam belajar IPA disebabkan guru yang masih menggunakan metode ceramah sehingga materi yang diajarkan menjadi verbal / hafalan. Kita menyadari bahwa salah satu kelemahan metode ceramah jika diterapkan secara murni adalah tidak melibatkan anak didik secara aktif dalam proses pembelajaran akibatnya materi tersebut menjadi kurang menarik dan itu-itu saja (model gunung).
Upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan minat & motivasi siswa pada pelajaran IPA adalah dengan menerapkan pembelajaran Out Door Study In TAI (team Assited Individualization atau team Accelerated Instruction). Karjawati (1995) menyatakan bahwa metode out door study adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Sedangkan Salvin, (1995) metode TAI (team Assited Individualization atau team Accelerated Instruction) adalah model kelompok berkemampuan heterogen . setiap siswa belajar pada aspek khusus pembelajaran secara individual. Anggota tim menggunakan lembar jawab yang digunakan untuk saling memeriksa jawaban teman sekelompok, dan semua bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban pada akhir kegiatan sebagai tanggung jawab bersama. Diskusi terjadi pada saat siswa saling mempertanyakan jawaban yang dikerjakan. Melalui metode out door study in TAI  lingkungan luar sekolah dapat digunakan sebagai sumber belajar. Peran guru disini adalah sebagai motivator, artinya guru sebagai pemandu agar siswa belajar secara aktif, kreatif dan akrab dengan lingkungaan. Metode out door study in Tai pada pengajaran IPA menjadi sarana memupuk kreatifitas inisiatif kemandirian, kerjasama atau gotong royong dan meningkatkan minat pada Alam. (Nursid Sumaatmadja, 1996). Dengan demikian diharapkan metode out door study in TAI dalam pengajaran IPA dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas 3 SDN Kendangsari III Surabaya.

Pemilihan lingkungan di luar sekolah sebagai sumber belajar hendaknya disesuaikan dengan materi pelajarannya. Melalui metode Out door study in TAI, bentuk tugas yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan anak didik pada batas frekuensi yang tetap menggairahkan mereka sehingga tidak menimbulkan kebosanan dan kejenuhan.
 
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui “Melalui metode out door studyin TAI dalam meningkatkan minat & motivasi belajar IPA siswa kelas 3 SDN Kendangsari III Surabaya.
 
Penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat, bagi guru sebagai bahan masukan tentang penggunaan metode out door study in TAI dalam pembelajaran   IPA atu pelajaran lain dalam rangka menumbuhkan minat & motivasi belajar siswa, sedangkan untuk siswa diharapkan dapat menumbuhkan minat dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPA atau pelajaran lain.
 
METODE PENELITIAN
 
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SSDN Kendangsari III Kecamatan Rungkut Kota Surabaya, pada pertengahan bulan Oktober – Nopember 2007 pada mata pelajaran IPA kelas 3-A. Sekolah tersebut memiliki halaman yang sepanjang halaman tersebut ada tamannya. Siswa rata-rata berasal dan tingkat sosial ekonomi yang beragam.
 
Dalam penelitian tindakan kelas ini instrument yang digunakan adalah observasi / pengamatan untuk guru, angket dan catatan lapangan, lembar observasi digunakan oleh kolaborator untuk mengamati guru pada saat pelaksanaan KBM. Angket diberikan kepada siswa setelah penelitian tindakan pada sikius I dan sikius II untuk mengukur minat siswa terhadap pelajaran IPA. Sedangkan catatan lapangan dilaksanakan pada saat KBM sedang berlangsung dengan harapan dapat memperoleh beberapa temuan / data tentang kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
 
Pada penelitiaan tindakan ini menggunakan 2 (dua) siklus yang masing-masing siklus terdiri 2 kali pertemuan. Tiap pertemuan waktunya 2 x 35 menit. Hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu dan penelitian ini menyesuaikan dengan pokok bahasan yang ada di kelas 3. Masing-masing siklus dilaksanakan dengan dilengkapi instrumen / alat observasi. Siklus pertama dirancang dengan dasar refleksi awal, selanjutnya siklus kedua didasarkan atas refleksi siklus pertama.
 
PELAKSANAAN PENELITIAN
 

Siklus Pertama


Guru sudah menentukan lokasi di luar kelas untuk melaksanakan penelitian yang berada di luar sekolah (halamn sekolah). Kemudian guru membentuk kelompok yang anggotanya 5 anak secara heterogen.
 
Guru membuat panduan belajar siswa pada waktu belajar diluar kelas yaitu guru memberi tugas kepada kelompok (tim) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota tim. Anggota yang tahu menjelaskan pada pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
 
Guru sudah menetapkan tema  /materi pembelajaran. Pertemuan 1 adalah mengidentifikasi berbagai macam gerak benda, pertemuan 2 adalah mengidentifikasi hal-hal yang mempengaruhi gerak benda.

Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan awal :
·      Guru memberi salam.
·      Guru mengajak siswa untuk ke lokasi di luar kelas.
·      Guru menyuruh siswa berkumpul menurut timnya.
·      Guru memberi motivasi pada siswa tentang pentingnya lingkungan sebagai sumber belajar termasuk sarana halaman yang ada di sekitar sekolah.
·      Guru memberikan panduan belajar siswa selama ±15 menit pada waktu belajar diluar kelas yaitu guru memberi tugas kepada kelompok (tim) untuk dikerjakan oleh anggota-anggota tim. Anggota yang tahu menjelaskan pada pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.

Kegiatan inti:

·      Masing-masing kelompok berpencar pada lokasi untuk melakukan pengamatan dan diberi waktu ± 30 menit.
·      Guru membimbing siswa selama kegiatan di lapangan.
·      Selesai kegiatan siswa di suruh berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil pengamatannya.
·      Guru menginstruksikan pada timnya agar anggota timnya paham dan mempertanggung jawabka hasil pengamatan tersebut.
 
Kegiatan akhir :
 
·      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan / kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran.
·      Guru memberikan kesimpulan selama  ± 25 menit berma siswa.
a.    Kegiatan pengamatan / observasi dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan di atas yang dilakukan oleh kolaborator. Adapun hal-hal yang diobservasi meliputi :
o Urutan langkah-langkah pelaksanaan KBM
o Kegiatan siswa dalam kerja kelompok
o Aktifitas guru dalam mengelola KBM di luar kelas
o Monitoring angket siswa

b.    Refleksi :
Refleksi  dilakukan  untuk  mengamati pelaksanaan tindakan dan hasil kerja siswa pada siklus I, maka perlu adanya perbaikan-perbaikan diantaranya dalam pengelompokan siswa, lokasi yang kurang sesuai, keterbatasan waktu (karena banyak waktu yang terbuang), dan konsentrasi / perhatian siswa mudah berubah.
   
SIKLUS KEDUA

a.    Perencanaan tindakan pada siklus kedua dilakukan dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I, antara lain :

o  Menentukan lokasi yang lebih tepat / sesuai dengan tema.
o  Membuat panduan belajar siswa yang mudah dipahami oleh siswa.
o  Menyiapkan waktu yang tepat agar tidak banyak waktu yang terbuang.
o  Kelompok siswa disusun secara variatif agar merata antara kemampuan masing-masing siswa.
o  Menetapkan pokok bahasan / tema yang lebih menarik. Pertemuan 3 yaitu membuat daftar contoh penggolongan sesuai dengan gerakannya,   perternuan 4 mengenai penerapan berbagai gerak benda untuk berbagai keperluan.

b. Pelaksanaan tindakan

Kegiatan awal :

·      Guru langsung mengajak siswa ke lokasi.
·      Guru meminta siswa berkumpul sesuai kelompoknya.
·      Guru membuka pelajaran dan memberi motivasi yang lebih meningkatkan antusias siswa selama ±15 menit.
 
Kegiatan inti :
 
·      Masing-masing kelompok berpencar pada lokasi yang sudah ditentukan.
·      Guru membimbing siswa selama pengamatan.
·      Selesai waktu yang sudah ditentukan guru mengajak siswa berkumpul kembali untuk diskusi hasil pengamatannya.
·      Guru memandu diskusi dan siswa diberi kesempatan memberi tanggapan waktu yang disediakan waktu ± 30 menit .
 
Kegiatan akhir :
 
·      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan / kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran.
·      Guru memberikan kesimpulan bersama siswa ± 25 menit.

Kegiatan pengamatan / observasi dalam siklus kedua ini tampak beberapa perubahan yang dialami siswa, yaitu semangat, pemahaman siswa terhadap pelajaran, keberanian siswa mengemukakan pendapat dan kreatifitas / keaktifan siswa mengalami peningkatan semangat siswa yang semula 85% menjadi 95%, pemahaman siswa yang semula 80% menjadi 90%, keberanian berpendapat yang semula 75% menjadi 85%, dan keaktifan siswa yang semula 85% menjadi 90%.

c. Refleksi
 
Dalam siklus ke 2 ini ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, yaitu kerja kelompok cenderung berdominan anak tertentu saja yang bekerja, konsentrasi siswa mudah sekali beralih karena di luar kelas sering kali banyak gangguan misalnya suara bising, cuaca di luar kelas yang tidak menentu misalnya hujan atau angin dan lain-lain. Hal tersebut menuntut kepandaian guru untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan,
 
KESIMPULAN DAN SARAN
 
Kesimpulan
 
Metode Out door study in TAI berhasil meningkatkan minat belajar siswa kelas 3 pada materi pelajaran IPA. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan dalam 2 sikius, antara lain :

a.  Metode out door study in TAI menjadikan siswa lebih bersemangat dalam belajar, lebih berkonsentrasi pada materi, membuat daya pikir siswa lebih berkembang, suasana belajar lebih enjoy, siswa lebih dapat memahami materi pelajaran, siswa lebih berani mengemukakan pendapat dan membuat siswa lebih aktif dan bertanggung jawab pada argumen hasil pengamatan.

b.  Metode out door study in TAI  lebih efisien dan etektif jika diterapkan dengan baik, terutama pada mata pelajaran IPA yang ruang lingkup pengajarannya sebagain besar alam lingkungan dan kehidupan yang menjadi ciri khasnya.
 

SARAN

 
1.    Guru IPA dapat menerapkan metode out door study in TAI melalui karyawisata ke tempat-tempat tertentu dengan harapan minat siswa terhadap pelajaran IPA semakin meningkat.
2.    Kepala sekolah hendaknya lebih banyak memberikan motivasi kepada guru mata pelajaran yang lain selain geografi agar dapat menerapkan metode out door study dalam pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi, Suhardjono dan Supardi, dalam bukunya Penelitian Tindakan Kelas
Effendi. 1995. Filsafat Komunikasi. Bandung; Remaja. Rosdakarya.
Karjawati, 1995. Hubungan antara penggunaan metode mengajar, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dan pengataman mengajar guru dengan tingkat motivasi beiajar  di Kotamadya Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang. Program Sarjana IKIP Malang.
Sumaatmadja, N. 1997. Metodologi pengajaran geografi. Bandung. Bina Aksara
Walgito, B. 1981. Bimbingan penyuluhan di sekolah. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
The Liang Gie. 1985. Cora Belajar efisien. Yogyakarta: UGM Press.
Syaifullah. M. 1995. Motivasi belajar pembelajaran dan upaya-upaya peningkatannya. Malang: IKIP Malang.

-------------------



1.
Prev home
tutorial blogpengobatan tradisional