Tampilkan postingan dengan label teori - teori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teori - teori. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2012

Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget


Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget 
Dalam hubungannya dengan teori belajar konstruktivisme, Piaget
mengemukakan bahwa perkembangan kognitif sebagai suatu
proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna dan
pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi
interaksi mereka (Trianto, 2007:14).  Bahkan, perkembangan
kognitif seseorang bergantung pada seberapa jauh mereka aktif
memanipulasi dan berinteraksi terhadap lingkungannya (Trianto,
2007:16). 

Dalam hubungannya dengan penelitian ini, teori dan pandangan
konstruktivisme ini adalah bahwa untuk memperoleh konsep baru,
peserta didik selalu diajak bahkan ditugaskan dalam kerja kelompok
untuk mencari, menyelesaikan masalah, menggeneralisasikan, dan 
menyimpulkan hasil kajian atau temuan mereka.
1.

Rabu, 13 April 2011

Pendekatan Open-Ended



Penerapan problem open-ended dalam pembelajaran adalah untuk mengembangkan metode, cara, pendekatan yang berbeda ketika menjawab suatu permasalahan, dan bukan hanya berorientasi kepada hasil akhir.
Becker dan Shigeru (dalam Inprasitha, 2006) menyatakan:
Between 1971 and 1976, Japanese researchers carried out a series developmental research projects on methods of evaluating high-order thinking skills in mathematics education using open-ended problems as a theme. This approach started with having students engaging in open-ended problems which are formulated to have multiple correct answer ”incomplete” or”open-ended”. In terms of teaching method, 100 one ”open-ended” problem is posed to the students first, then, proceeds by using many correct answer to the given problem to provide experience in finding something new during the problem-solving process.

Dalam pembelajaran open-ended problem solving peserta didik tidak hanya menunjukkan jawaban yang benar tetapi juga perlu menunjukkan bagaimana proses penyelesaiannya (bagaimana peserta didik dapat mendapatkan jawaban tersebut).
Pada penelitian ini, pendekatan pembelajaran open-ended digunakan ketika peserta didik diberi masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dengan banyak cara dan/atau jawabannya tidak tunggal.
1.

Teori Belajar Vygotsky



Teori belajar Vygotsky sejalan dengan teori perkembangan Piaget yang meyakini bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu menghadapi tantangan dan pengalaman baru, serta untuk memecahkan masalah yang muncul. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu yang bersangkutan berusaha mengkaitkan pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dimilikinya kemudian membangun pengertian baru.
Teori Vygotsky ini, lebih menekankan pada aspek sosial dari pembelajaran. Menurut Vygotsky (Trianto, 2007:27) bahwa proses pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka disebut dengan zone of proximal development, yakni daerah tingkat perkembangan sedikit di atas daerah perkembangan seseorang saat ini.
Prinsip-prinsip teori Vygotsky ini merupakan bagian kegiatan pembelajaran berbasis proyek melalui bekerja kelompok kecil. Peran kerja kelompok ini adalah untuk mengembangkan kemampuan aktual peserta didik, dengan kerja kelompok maka beberapa penemuan kembali yang dilakukan peserta didik dapat dikumpulkan kemudian digeneralisasikan atau disimpulkan secara bersama dalam kelompok itu. Bilamana terjadi kesulitan dalam menyelesaikan masalah secara kelompok peserta didik, maka guru dapat membantunya.
1.

Teori Belajar Jerome S. Bruner



Bruner terkenal dengan metode penemuannya. Dalam proses belajar mengajar, pengertian penemuan di sini bagi peserta didik adalah penemuan kembali (reinvention), jadi dalam proses belajar mengajar peserta didik diajak untuk menemukan kembali aturan-aturan atau dalil-dalil yang sudah ada.
Bruner memandang bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik (Trianto, 2007:26). Akibatnya dari metode ini, bahwa Bruner tidak mengembangkan teori belajar secara sistematis, namun yang penting adalah bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif.
Selanjutnya seiring dengan struktur kognitif anak, maka Bruner dalam mengembangkan teorinya mendasarkan atas dua asumsi yaitu: Pertama, perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, artinya orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan terjadi pada diri individu dan lingkungannya. Kedua, seseorang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang telah dimilikinya.
Dengan metode penemuan ini, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, Bruner mengembangkan teknik scaffolding dan interaksi sosial didalam kelas. Scaffolding adalah proses untuk membantu kesulitan peserta didik dalam menuntaskan masalah tertentu sehingga peserta didik dapat melampaui kapasitas kemampuannya melalui bantuan guru, teman atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.
Dalam penelitian ini teori belajar Jerome S. Bruner berhubungan erat dengan pembelajaran berbasis proyek ketika para peserta didik harus mencari penyelesaian suatu masalah. Dalam menyelesaikan masalah, peserta didik harus melihat apa yang diketahui, beberapa cara yang mungkin dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah bahkan terkadang perlu menggambarkan terlebih dahulu grafik dari solusi yang mungkin.
1.

Teori Belajar David Ausubel


Ausubel membedakan antara belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajar bermakna adalah suatu proses
dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui peserta didik (Trianto,
2007:25). Sedangkan belajar menghafal diperlukan untuk memperoleh informasi baru seperti definisi.
Dalam penelitian ini, teori belajar David Ausubel ini berhubungan erat ketika menyusun hasil temuan atau hasil
diskusi pada kelompok, mereka selalu mengkaitkan dengan pengertian-pengertian yang telah mereka miliki
sebelumnya. Sehingga jika dikaitkan dengan model pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah, di mana
peserta didik mampu mengerjakan permasalahan yang autentik sangat memerlukan konsep awal yang sudah
dimiliki peserta didik sebelumnya untuk suatu penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata(Trianto, 2007;
26).
1.
Prev home
tutorial blogpengobatan tradisional